Accounting's Blog

Bersikaplah seperti neraca yang selalu balance dalam setiap langkahnya

PERHITUNGAN (KALKULASI) HARGA POKOK (BAGIAN I)

PERHITUNGAN (KALKULASI) HARGA POKOK (BAGIAN I)

2.1 Pengertian Harga Pokok

Dalam proses produksi yang terjadi di dalam perusahaan, selalu ada alat-alat produksi yang dipakai untuk memperoleh produk yang kita inginkan. Perusahaan industri menghasilkan produk tertentu dengan memakai tenaga kerja, bahan baku, gedung, mesin-mesin dan alat-alat produksi lainnya; sebuah perusahaan angkutan memberikan jasa angkutan dengan menggunakan manusia, kendaraan, bahan-bahan pembantu, dan sebagainya. Nilai uang dari alat-alat produksi yang dikorbankan di dalam proses produksi disebut HARGA POKOK.

Ada tiga hal penting yang perlu kita perhatikan dan ingat. Yang pertama adalah bahwa dengan kata produksi tidak hanya diartikan memproduksi barang di dalam industri, melainkan lebih luas dari itu. Pengertian produksi mencakup produksi barang maupun memberikan jasa. Karena itu, perusahaan dagang juga melakukan proses produksi, yang terdiri dari pembelian, penyimpanan barang dagangan, pengkemasan, penjualan, memberikan kredit penjualan dan sebagainya. Karena itu perusahaan industri tidak hanya mengeluarkan biaya produksi, tetapi juga biaya penjualan.

Kedua, di dalam definisi tersebut pengertian biaya tidak terbatas pada pengorbanan yang dinyatakan dalam rupiah, yang perlu dan tidak dapat dihindarkan. Kalau kita membatasinya pada pengertian ini saja (yang memang sering dilakukan orang) kita akan menyimpang dari gambaran umum yang berlaku di dunia usaha. Kita tidak perlu membuat pembatasan ini. Di negara-negara lain pembatasan semacam itu juga tidak lazim, baik di dalam dunia praktek maupun di dalam literatur.

Dalam membahas suatu masalah, kalau yang kita artikan hanyalah bagian dari biaya yang penting dan tidak dapat dihindarkan, kita akan menyebutnya secara eksplisit sebagai biaya yang diperlukan atau biaya yang dibolehkan; biaya yang benar-benar dikeluarkan kita sebut biaya aktual.

Ketiga, kita harus membedakan dengan tajam antara biaya dan uang yang dikeluarkan. Kita berbicara mengenai biaya untuk alat-alat produksi yang dikorbankan di dalam proses produksi. Pengeluaran uang terjadi pada saat harga beli dari alat-alat produksi itu dibayarkan, walaupun masih belum dipakai di dalam proses produksi. Maka biaya dapat terjadi tanpa adanya pengeluaran uang. Yang sebaliknya juga bisa terjadi.

Beberapa contoh akan memperjelasnya. Kalau mesin yang telah kita beli di masa lampau sekarang dipakai di dalam proses produksi, maka akan muncul biaya penyusutan mesin karena sebagian dari mesin terpakai untuk proses produksi yang bersangkutan, tetapi ketika itu tidak ada pengeluaran uang, karena pengeluaran uang untuk membeli mesin telah dilakukan di masa lampau.

Bunga atas modal sendiri yang dimasukkan sebagai biaya juga merupakan biaya yang bukan pengeluaran uang.

Demikian juga dengan gaji dari pemilik yang bekerja di perusahaan, dalam hal gaji diperhitungkan sebagai biaya, tetapi tidak ada uang gaji yang dikeluarkan dari perusahaan.

Jadi penggunaan modal sendiri dan tenaga sendiri di dalam proses produksi perusahaan yang dimilikinya sendiri adalah pengorbanan yang merupakan biaya; kalau modal sendiri dan tenaga kerja dikerahkan di luar perusahaan, mereka akan mempunyai nilai. Karena itu mereka adalah biaya. Tetapi memang tidak ada uang yang dikeluarkan dari perusahaan, karena pembayarannya dapat ditunda atau tidak dilakukan sama sekali (disimpan terus di dalam perusahaan).

Juga ada pengeluaran uang yang tidak langsung berhubungan dengan pembelian dan pembayaran untuk alat-alat produksi. Contohnya adalah uang yang dipinjamkan kepada pihak lain, atau uang yang dipakai untuk melunasi utang. Ini adalah pengeluaran-pengeluaran uang yang tidak berkaitan dengan timbulnya biaya.

2.2 Tujuan Dari Menghitung Harga Pokok

Banyak masalah di perusahaan hanya dapat dipecahkan dengan memuaskan kalau kita mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai biaya-biaya yang berkaitan dengannya. Karena itu perhitungan harga pokok adalah instrumen yang penting untuk pengendalian perusahaan. Kita langsung merasakannya pada saat perusahaan hendak didirikan. Ketika itu kita harus membuat perhitungan, apakah perusahaan yang akan kita dirikan akan memberikan keuntungan ditinjau dari sudut biaya yang harus dibuat dan hasil penjualan yang akan diperoleh; kalau memang menguntungkan, produk-produk apakah yang akan memberikan keuntungan yang paling besar, di mana tempat yang terbaik untuk perusahaan yang akan kita dirikan, skala perusahaan yang berapa besarkah yang paling optimal, dan sebagainya. Perhitungan harga pokok dapat membantu agar pendirian perusahaan memang dapat dipertanggung jawabkan, dalam arti bahwa dari sekian banyaknya kemungkinan, kemungkinan terbaik yang akan dipilih.

Kalau perusahaan sudah berdiri, strukturnya sudah terbentuk. Walaupun demikian, kalau terjadi perubahan-perubahan pada lingkungan di mana perusahaan bekerja, (misalnya dengan terbukanya kemungkinan-kemungkinan baru memasarkan barang-barang tertentu), pimpinan perusahaan bisa mengubah aparat produksi yang ada. Untuk produk-produk tertentu pimpinan dapat memutuskan memperluas skala perusahaannya. Untuk keputusan-keputusan semacam ini perhitungan harga pokok merupakan sarana pembantu yang penting.

Mengenai perhitungan harga pokok yang berhubungan dengan masalah-masalah pilihan investasi akan kita bahas lebih lanjut di dalam pelajaran-pelajaran berikutnya.

Di samping perhitungan harga pokok yang berguna untuk perencanaan jangka panjang, ada juga perhitungan harga pokok yang berguna untuk pengambilan keputusan jangka pendek, yaitu keputusan-keputusan yang diambil dalam rangka perusahaan yang sudah berdiri, untuk mencari pola produksi yang paling menguntungkan bagi perusahaan.

Pimpinan akan menggunakan aparat produksinya secara optimal apabila :

  • Dia selalu mempertanyakan pada diri sendiri, barang atau jasa apa, berapa banyak dan dengan harga berapa yang sebaiknya dijual? Untuk itu, perencanaan produksi yang bagaimanakah yang paling menguntungkan untuk semua bagian-bagian perusahaan. (perencanaan jangka pendek );
  • Dia selalu berupaya agar semua perencanaan tersebut dilaksanakan dengan biaya yang benar-benar tidak dapat dihindarkan.

Baik untuk mencapai tujuan a maupun b tersebut di atas, perhitungan harga pokok adalah instrumen yang tidak dapat diabaikan.

Karena itu dua tujuan pokok dari perhitungan harga pokok adalah :

  • Memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan untuk membuat perencanaan jangka pendek yang optimal dalam bidang penjualan dan produksi (misalnya untuk bulan, triwulan atau satu tahun mendatang);
  • memperoleh data dan informasi untuk pengendalian proses produksi, terutama dengan maksud untuk memperoleh penghematan di dalam perusahaan.

Tujuan sampingan dari perhitungan harga pokok adalah untuk menentukan nilai barang dalam pengerjaan dan barang jadi yang harus dicantumkan di dalam neraca perusahaan.

PERHITUNGAN HARGA POKOK STANDARD;

JENIS-JENIS BIAYA

3.1 Uraian Umum

Harga pokok standard suatu barang dapat kita definisikan sebagai penjumlahan dari biaya-biaya yang mutlak diperlukan dan dibolehkan secara normatif. Harga pokok ini hanya mengandung alat-alat produksi yang untuk menghasilkan barang yang bersangkutan benar-benar tidak dapat dihindarkan. Harga satuan yang dipakai juga harga standard.

Dengan demikian, harga pokok standard (atau harga pokok normatif) dihitung berdasarkan satuan-satuan alat produksi yang standard atau normatif dikalikan dengan harga satuannya masing-masing yang standard.

Standard yang dipakai, baik untuk satuan-satuan alat produksi ataupun untuk harganya ditentukan untuk satu jangka waktu tertentu (misalnya setahun) dan juga untuk perusahaan tertentu atau bagian tertentu dari sebuah perusahaan. Sebabnya adalah bahwa situasi dan kondisi lingkungan berubah-ubah dalam perjalanan waktu, dan juga berbeda untuk setiap perusahaan atau bagian dari perusahaan.

Kesulitan untuk perhitungan harga pokok standard adalah menentukan standardnya. Terutama menentukan standard bagi jumlah satuan-satuan dari alat produksi biasanya adalah hal yang sulit. Caranya antara lain adalah dengan menelaah secara ilmiah semua bagian dari proses pengerjaan sesuatu barang. Dari penelaahan ini sekaligus ditentukan berapa alat produksi yang secara minimal dibutuhkan untuk setiap bagian dari proses produksi tersebut.

Cara yang lebih sederhana adalah menentukan standard yang didasarkan atas angka-angka yang sebenarnya di masa lampau. Jadi semacam ekstrapolasi dari angka-angka yang historis. Jelas bahwa kita harus memperhitungkan adanya perubahan-perubahan pada situasi dan kondisi yang terjadi yang mempunyai pengaruh terhadap angka-angka tersebut. Kita juga harus memasukkan ciri penugasan kepada kepala bagian yang bersangkutan dan memasukkan ciri normatif dari setiap komponen harga pokok, yaitu bahwa kita harus menentukan jumlah maksimal dari setiap alat produksi yang dibolehkan untuk menyelesaikan proses produksi yang bersangkutan. Faktor-faktor kebetulan dan pemborosan harus dikeluarkan dari angka-angka yang normatif ini. Penentuan standard yang normatif harus realistik, sehingga memang dapat dicapai dengan tenaga dan upaya yang wajar, walaupun harus tetap bersungguh-sungguh.

Realisme ini harus dipegang teguh baik untuk metode penentuan yang ilmiah maupun untuk metode yang didasarkan atas angka-angka historis sebenarnya di masa lampau. Kita juga dapat mengkombinasikan dua metode tersebut, yaitu ilmiah dan atas dasar angka historis. Bahkan, biasanya dengan mempergunakan bersama-sama yang saling mengisi, angka-angka standard yang tangguh dapat dihasilkan.

Kita sering dihadapkan pada kesulitan bahwa alat produksi yang satu bisa diganti dengan alat produksi lainnya, atau alat-alat produksi itu saling bisa disubstitusikan. Kita dapat menghemat pemakaian bahan baku dengan memakai tenaga kerja yang lebih tinggi kualitasnya, atau memakai lebih banyak mesin, karena dengan demikian kita terkadang dapat menghindarkan terjadinya tercecernya bahan baku yang banyak, dan juga dapat menghindarkan terjadinya barang jadi rusak atau barang jadi rusak yang banyak. Bagaimana menentukan kombinasi dari alat-alat produksi yang paling ideal juga sangat dipengaruhi oleh harganya masing-masing. Pada akhirnya harga pokok terendah dalam rupiahlah yang paling menenetukan pilihan kita, dan bukan harga pokok dalam satuan alat-alat produksinya. Kalau harga bahan baku relatif lebih murah dari harga tenaga kerja, kita tidak akan memakai terlalu banyak buruh, sehingga dengan sadar menerima terjadinya pemborosan bahan baku dan menerima timbulnya barang jadi rusak yang lebih banyak. Dalam contoh ini, angka standard untuk tenaga kerja menjadi rendah, dan untuk bahan bakunya menjadi tinggi.

Metode produksi yang dipakai biasanya tidak dapat diubah dalam waktu singkat. Maka dalam hal metode kerja, kita biasanya mendasarkan diri pada yang sudah ada di dalam menentukan standard normatif. Kalau kita mendasarkan diri pada metode ideal yang masih belum dipakai di dalam perusahaan, harga pokok standardnya tidak akan dapat dipakai untuk membuat penilaian terhadap prestasi perusahaan, karena kalau didasarkan atas metode ideal yang belum diterapkan di dalam perusahaan, maka bekerja sekeras apapun tidak akan dapat mencapai harga pokok standardnya.

Harga-harga standardnya ditentukan atas dasar perkiraan perkembangan harga beli (replacement price) yang akan terjadi di dalam kurun waktu satu tahun mendatang. Dari angka-angka ini lalu diambil rata-ratanya. Selisih yang positif dan yang negatif antara harga standard dengan harga yang sebenarnya akan saling mengkompensasi kalau diambil untuk satu tahun penuh.

Dari apa yang telah diuraikan di atas rasanya jelas bahwa perhitungan harga pokok standard sifatnya selalu adalah pra kalkulasi, yaitu kalkulasi yang dilakukan sebelum produksi yang bersangkutan dimulai. Karena itu sebagian dari perhitungan harga pokok standard selalu adalah perkiraan-perkiraan, baik untuk jumlah satuannya maupun untuk harga dari setiap satuan alat produksi.

Sebelum membahas kalkulasi harga pokok standard, kami akan menguraikan karakteristik enam jenis biaya sebagai berikut.

  • biaya untuk bahan baku dan bahan pembantu;
  • biaya untuk tenaga kerja;
  • biaya untuk alat produksi yang berusia lama;
  • biaya tanah;
  • biaya jasa-jasa pihak lain dan pajak; dan
  • biaya bunga.

Kita menamakan pembagian biaya ke dalam kategori-kategori tersebut sebagai pembagian biaya kategori.

Untuk mudahnya, kita bertitik tolak dari perusahaan yang produksinya hanya satu macam produk saja, misalnya air minum. Asumsi ini kita pertahankan sampai pada pembahasan tentang biaya tetap dan biaya variabel, dan dampak dari pembagian biaya ini terhadap perhitungan harga pokok standard.

3.2 Biaya Untuk Bahan Baku Dan Bahan Pembantu

Jumlah satuan bahan baku yang diperlukan untuk menghasilkan satu satuan barang jadi dapat ditentukan dengan cara :

  • data teknis yang mengungkapkan berapa banyak bahan baku yang terkandung di dalam produk yang bersangkutan; dan
  • angka-angka mengenai bahan baku yang tercecer dan barang jadi rusak yang dianggap dapat diterima.

Dengan kata lain, harga pokok standard tidak hanya mengandung bahan baku yang terdapat di dalam produk yang bersangkutan, tetapi juga :

  • bahan baku yang hilang karena tercecer (bahan baku tercecer); dan
  • bahan baku yang hilang bersama-sama dengan barang setengah jadi dan barang jadi yang rusak.

Contoh : Bahan baku yang diperlukan untuk sebuah barang jadi (termasuk yang tercecer) adalah 4 kg @ Rp 10.000,- per kg. Bahan yang tercecer dalam memproduksi satu buah barang jadi adalah 1/2 kg. Bahan baku yang tercecer (dan kotor) ini masih laku dijual dengan harga Rp 2.000,- per kg-nya. Normalnya, 10 % dari barang jadi rusak. Barang jadi rusak ini tidak mempunyai nilai.

Barang jadi rusaknya 10 %, sehingga bahan baku untuk satu buah barang jadi adalah 100/90 x Rp 39.000,- = Rp 43.333,-

Contoh kedua : Bahan baku yang dibutuhkan untuk satu buah barang jadi (dan sudah bersih dari barang yang terecer atau pemakaian neto) adalah 18 kg @ Rp 6.000,-. Bahan baku yang tercecer adalah 10 % dari pemakaian bahan baku bruto (bruto = termasuk bahan baku yang tercecer). Bahan baku yang tercecer tidak mempunyai nilai. Barang jadi rusak normalnya adalah 4 % dari barang jadi yang dihasilkan. Dari barang jadi rusak ini, separuh dari bahan bakunya dapat dipakai kembali. Dari data ini dapat dihitung :

Perhitungan bahan pembantunya sama dengan yang baru kita uraikan, tetapi dengan perbedaan bahwa bahan pembantu tidak ada yang diserap oleh barang jadi. Bahan pembantu adalah bahan yang diperlukan untuk memperlancar jalannya produksi, misalnya minyak dan bahan pelicin lainnya serta katalisator.

Seperti yang telah dikemukakan tadi, jumlah bahan baku dan bahan pembantu yang dibolehkan tergantung pada metode produksi yang dianut, terutama tergantung pada kombinasi antara bahan baku dan bahan pembantu dengan faktor-faktor produksi lainnya. Kita mendasarkan diri pada metode produksi yang akan dianut di dalam periode mendatang dalam menentukan bahan baku dan bahan pembantu yang diperlukan.

3.3 Biaya Tenaga Kerja

Untuk faktor produksi inipun kita dihadapkan pada masalah bagaimana menentukan jumlah jam yang dibutuhkan dan harga per jamnya. Pertama-tama kita harus menentukan berapa jam kerjakah yang dibutuhkan oleh satu barang jadi untuk setiap buruh, kalau buruh yang bersangkutan dianggap bekerja dengan tekun dan keras sebagaimana layaknya. Metode produksi apapun yang akan dipakai kita terima sebagai kenyataan. Jumlah jam kerja buruh yang diperlukan ini dapat ditentukan berdasarkan analisa waktu dan pekerjaan (time and motion studies). Untuk setiap pekerjaan kita harus mendasarkan diri pada prestasi rata-rata yang dapat dicapai oleh sekelompok buruh yang mengerjakan pekerjaan yang sama.

Harga yang dipakai untuk menterjemahkan jumlah jam kerja ini ke dalam rupiah adalah upah yang berlaku untuk setiap buruh yang bersangkutan. Jumlah ini ditentukan oleh tingkat upah yang berlaku dan sistem pengupahan yang diterapkan perusahaan. Yang pertama tergantung dari perkembangan dari tingkat upah buruh yang berlaku pada jenis perusahaan yang bersangkutan (yang antara lain ditentukan oleh kesepakatan dengan serikat sekerjanya). Yang kedua adalah hal yang ditentukan oleh perusahaan sendiri.

Ada banyak sistem pengupahan, dari yang paling sederhana sampai yang paling canggih. Bentuk pengupahan yang paling sederhana adalah upah tetap yang dikaitkan dengan waktu. Ini adalah upah yang tetap jumlahnya per periode, yang besarnya tidak dikaitkan dengan prestasi yang diberikan oleh sang buruh. Sistem lainnya adalah upah per satuan prestasi, yang jumlahnya langsung dikaitkan dengan jumlah prestasi yang dihasilkannya.

Kalau kedua sistem ini dikombinasikan, kita namakan sistem pengupahan premi. Pada sistem ini, buruh menerima upah tetap sebagai dasar, dan di atasnya suatu premi, yang dikaitkan dengan jumlah waktu yang dapat dihematnya. Wujudnya adalah jumlah prestasi yang melebihi prestasi normal yang telah ditentukan.

Jumlah waktu kerja standard yang dijadikan dasar perhitungan harga pokok standard tidak perlu sama dengan waktu normal yang dijadikan norma untuk sistem pengupahan dengan premi. Banyak sistem pengupahan premi sudah memberikan premi bagi prestasi yang lebih rendah daripada yang dipakai untuk perhitungan harga pokok standard.

Sistem upah tetap tepat diberlakukan kalau prestasi pekerja yang bersangkutan sangat sulit ditentukan seperti pekerjaan kantor dan pekerjaan reparasi. Juga tepat diberlakukan kalau keberadaan dari pekerja yang bersangkutan sangat penting, seperti halnya dengan harus adanya satpam setiap saat.

Sistem upah per satuan prestasi lebih tepat kalau jumlah prestasinya dapat ditentukan dengan mudah, sedangkan pekerjanya sendiri memang dapat mempengaruhi besar kecilnya prestasi yang diberikan olehnya.

Motif bagi diberlakukannya sistem upah premi adalah karena pimpinan ingin mengadakan perbaikan secara perlahan-lahan dengan cara persiapan pekerjaan bagi sang buruh yang lebih baik, standardisasi dari kualitas material, perbaikan metode kerja, dan pendidikan dan pelatihan para pekerja. Dengan demikian, pimpinan perusahaan juga memberikan jasa yang besar buat peningkatan prestasi sang buruh yang sangat mempengaruhi pendapatannya. Karena itu peningkatan prestasi lalu tidak hanya tergantung dari upaya kerja lebih keras dan lebih teliti dari para buruhnya, sehingga manfaatnya juga harus dibagi dengan majikannya (gainsharing).

Catatan :

Dalam pelajaran berikutnya kami masih akan melanjutkan dengan pembahasan tentang jenis-jenis biaya yang belum terbahas dalam pelajaran ini.

http://www.koraninternet.com/web/?pilih=lihat&id=8062

About these ads

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: