Accounting's Blog

Bersikaplah seperti neraca yang selalu balance dalam setiap langkahnya

Perhitungan (Kalkulasi) Harga Pokok (Bagian II)

PERHITUNGAN (KALKULASI) HARGA POKOK

(BAGIAN II)

3.4 BIAYA DARI ALAT-ALAT PRODUKSI BERJANGKA PANJANG

Ciri khas dari Alat Produksi Berjangka Panjang (APBP) adalah bahwa mereka tidak dikorbankan habis dengan dipakainya sekali saja, melainkan harus secara perlahan-lahan dalam pemakaian yang berkelanjutan. Biaya yang dikaitkan pada pemakaian apbp di dalam perhitungan harga pokok disebut penyusutan. Penyusutan terdiri dari penurunan nilai apbp per produk yang disebabkan karena dipakainya untuk memproduksi produk yang bersangkutan.

Berdasarkan apa yang telah kita bahas, perhitungan harga pokok standard tidak mengalami kesulitan memperhitungkan penyusutan, terutama kalau menyangkut penentuan jumlah prestasi (misalnya jumlah jam mesin) per produk. Kita masih harus membahas bagaimana caranya menghitung biaya dari jumlah satuan prestasi ini.

Dalam menentukan biaya penyusutan kita harus mempertanyakan tiga hal:

  1. Berapa lamakah apbp dapat dipakai secara bertanggung jawab? Ini adalah usia ekonomisnya, atau jangka waktu pemakaian ekonomisnya.
  2. Jumlah berapa yang harus disusutkan sepanjang usia ekonomisnya?
  3. Bagaimana cara membagi jumlah yang dimaksud oleh no. 2 ke dalam periode yang dimaksud oleh no. 1?

Penjelasan. 1. Jangka waktu, dalam mana apbp dapat dipakai disebut usia teknis atau jangka pemakaian teknis. Kebanyakan usia ekonomisnya lebih pendek daripada usia teknisnya. Sebabnya terletak pada biaya-biaya komplementernya. Ini adalah biaya dari alat-alat produksi yang memungkinkan dipakainya alat-alat produksi yang bersangkutan. Biaya komplementer ini di dalam perjalanan usia teknisnya cenderung meningkat. Contohnya : biaya pemeliharaan, bensin dan minyak pelumas pada kendaraan bermotor meningkat semakin kendaraan bermotor itu meningkat usianya, karena bekerjanya yang sudah tidak efisien lagi; banyak onderdil-onderdil yang sudah haus, sehingga memakan banyak biaya komplementer lainnya.

Lagipula, karena berbagai faktor, harga apbp juga menurun. Faktor-faktor ini adalah lamanya mesin berhenti karena reparasi, munculnya mesin-mesin sama dengan teknologi baru yang lebih efisien. Ketika biaya komplementernya meningkat sampai menyamai nilai apbp-nya sendiri, habislah usia ekonomis dari apbp yang bersangkutan.

Contoh : Kalau biaya komplementar dari sebuah mobil sudah mencapai Rp 600,- per kilometer (km)-nya, sedangkan harga pokok standardnya Rp 550 per km, maka pemakaian mobil yang bersangkutan secara ekonomis tidak dapat dipertanggung jawabkan lagi.

Usia ekonomis biasanya tidak dapat ditentukan secara cermat, karena faktor-faktor yang menentukannya hanya dapat ditentukan dengan mendekati, tetapi tidak persis. Maka untuk konservatifnya, biasanya usia ekonomis ditentukan relatif pendek.

Penjelasan. 2. Jumlah yang harus disusut seluruhnya sama dengan nilai beli dikurangi dengan harga jual pada akhir usia ekonomisnya, yaitu harga yang bisa diperoleh dari penjualan mesin bekas yang usia ekonomisnya sudah habis (nilai sisa). Kalau nilai perolehan atau nilai sisanya berubah di dalam periode selama apbp yang bersangkutan dipakai, penyusutannya harus disesuaikan. Hanya dengan penyesuaian ini dapat dicapai bahwa harga pokok standard didasarkan atas tingkat harga untuk periode yang telah ditentukan.

Penjelasan. 3. Yang lebih rumit adalah pertanyaan, bagaimana angka yang didapatkan dari no. 2 tersebut dibagi untuk seluruh periode usia ekonomisnya ? Dengan kata lain, yang ditanyakan adalah metode penyusutan yang bagaimana yang hendak diterapkan? Kita akan membahas 4 metode penyusutan dari sekian banyaknya metode penyusutan yang ada. Kita mengandaikan bahwa harga perolehan dan nilai sisanya tidak mengalami perubahan.

  1. A. Penyusutan dengan % tetap dari harga perolehan. Dalam sistem ini, setiap tahunnya disusutkan jumlah yang sama.
  2. B. Penyusutan dengan % yang menurun dari harga perolehan.
  3. C. Penyusutan dengan % yang tetap dari nilai buku. Nilai buku adalah nilai (setelah dikurangi dengan penyusutannya) yang tercantum di dalam buku besar.
  4. D. Penyusutan menurut metode anuitas. Ini adalah metode, di mana biaya penyusutan ditambah dengan biaya bunga dari nilai buku apbp selalu merupakan jumlah yang sama sepanjang tahun pembukuan (anuitas).

Contoh : Andaikan bahwa harga perolehan dari APBP tertentu adalah Rp 100.000.000,-. Usia ekonomisnya adalah 5 tahun dan nilai sisanya Rp 10.000.000,- Penyusutannya (dibulatkan) seperti yang tercantum di dalam tabel di bawah ini :

Tahun penyusutan (dalam rupiah) menurut metode :

Kami jelaskan sebagai berikut :

Kalau kita kehendaki, pada metode B kita dapat menerapkan % yang berbeda untuk setiap tahunnya, misalnya 20, 19, 18, 17 dan 16 %.

Perhitungan pada metode C berjalan sebagai berikut : Misalkan bahwa % penyusutan yang dicari adalah X. Nilai bukunya turun setiap tahunnya sebesar penyusutannya, atau dengan X % dari nilai buku pada awal tahun. Nilai buku pada akhir tahun menjadi (1- (X/100)) dari pada awal tahunnya. Nilai buku pada akhir tahun kelima menjadi sama dengan Rp 100.000.000 (1 – (X/100)) 5. Nilai buku ini sekaligus juga menjadi sama dengan nilai sisanya sebesar Rp 10.000.000,- Dari sini dapat dihitung bahwa X = 36,9.

Anuitas yang ada di metode D menurut tabel anuitas dengan tingkat bunga 10 % sama dengan Rp 24.742.000 (dibulatkan). Dengan menghilangkan jumlah-jumlah bunga (untuk tahun pertama sebesar 10 % dari Rp 100.000.000,- dan seterusnya), di dalam tabel tersebut kita akan memperoleh jumlah penyusutannya saja.

Pada prinsipnya tidak ada gunanya di dalam menghitung penyusutan bekerja secara sangat akurat, karena penentuan usia ekonomis dari apbp biasanya dapat dilakukan dengan perkiraan secara kasar. Karena itu, tidak ada gunanya bahwa di bagian lain dari penentuan penyusutannya kita terlampau ekstrem di dalam kecermatannya.

Sistem penyusutan yang manakah yang dalam kasus konkret tertentu sebaiknya kita terapkan? Sebagai penuntun dapat dikatakan bahwa sistem penyusutan terbaik adalah yang menghasilkan jumlah dari penyusutan dan bunga di dalam perjalanan waktu selalu sama dengan nilai neto dari prestasinya apbp yang bersangkutan.

Nilai neto ini sama dengan selisih antara nilai uang dari produksi apbp (dihitung dengan harga pokok standard) dengan biaya komplementernya (lihat gambar). Penyesuaian dari jalannya penyusutan plus bunga dengan nilai neto dari prestasinya berarti bahwa biaya dari apbp sepanjang waktu dibebankan berdasarkan manfaat yang selama tahun-tahun yang bersangkutan diberikan oleh apbp. Cara perhitungan harga pokok yang demikian penting, karena kalau tidak, setiap produk akan memperoleh pembebanan biaya untuk pemakaian apbp yang berbeda. Harga pokok barang akan tergantung dari tahun berapa barang tersebut dibuat.

Dari sini sudah terlihat bahwa nilai neto dari prestasi apbp dalam perjalanan waktu biasanya menurun. Karena itu penyusutan yang menurun setiap tahunnya (seperti pada metode B dan C) lebih tepat. Metode B lebih bermanfaat dari metode C , karena kadar penurunan penyusutannya dapat disesuaikan pada situasi yang konkret. Lagipula cara ini lebih sederhana.

Contoh : Sebuah mesin mempunyai usia ekonomis selama 5 tahun. Jumlah jam kerjanya dan biaya komplementernya berjalan sebagai berikut:

Harga perolehan mesin adalah Rp 40.000.000,-, nilai sisanya Rp 5.000.000,-

Ditanyakan bagaimana menentukan skema penyusutannya, kalau faktor biaya bunga diabaikan.
Jawabnya :

Nilai produksi per jam mesin adalah sama dengan:

Nilai neto dari jam-jam mesin (dan berkaitan dengan itu penyusutannya) berjalan sebagai berikut:

Tabel ini menunjukkan penyusutan dengan % yang menurun dari harga perolehan. Penurunannya tidak terlampau teratur.

Sebagai akhir dari paragraf ini kami memberikan beberapa catatan sebagai berikut.

Biaya komplementer yang meningkat di dalam tabel di atas dipakai sebagai dasar mengapa penyusutan diambil dengan pola menurun. Kita dapat menampung peningkatan biaya komplementer ini dengan cara lain, yaitu pembentukan perkiraan egalisasi. Tekanan oleh biaya komplementer yang meningkat dapat dibagi lebih merata melalui perkiraan-perkiraan egalisasi tersebut. Perkiraan egalisasi setiap tahunnya dibebani dengan biaya komplementer yang sebenarnya untuk tahun itu dan dikredit dengan jumlah yang setiap bulannya sama, yang juga merupakan komponen dari harga pokok standard. Pengkreditan ini sama dengan jumlah yang diakibatkan oleh biaya komplementer setiap tahunnya selama usianya apbp. Saldo dari perkiraan egalisasi dicantumkan di dalam neraca.

Contoh dari perkiraan egalisasi seperti itu adalah dana pemeliharaan. Pada awal pemakaian mesin, perkiraan ini akan mempunyai saldo kredit, yang akan musnah selama perjalanan waktu selanjutnya.

Kalau kita memakai perkiraan egalisasi untuk biaya komplementer, lebih sedikit alasan kita untuk memakai penyusutan yang menurun.

Kita dapat memperlakukan biaya bunga dengan cara yang sama. Dalam hal bunga, kita tidak memasukkan biaya bunga yang sebenarnya dibayarkan, melainkan bunga yang dihitung atas dasar jumlah uang yang rata-rata tertanam di dalam apbp. Dengan demikian, biaya bunga yang setiap tahunnya diperhitungkan diratakan, yang mempunyai konsekuensi untuk polanya penyusutan.

Kami ingin mengemukakan bahwa pemilihan metode penyusutan yang tepat tidak penting lagi kalau perusahaan mempunyai kelompok apbp yang pola usianya mendekati kelompok apbp yang ideal. Kita namakan ideal kalau apbp yang dimiliki usianya berselisih dengan pola yang sama, sedangkan apbp itu semuanya sama. Andaikan sebuah perusahaan mempunyai mobil-mobil yang jangka waktu pemakaiannya adalah 4 tahun. Setiap tahun sebuah mobil baru dibeli, sedangkan mobil yang sudah selesai masa pemakaiannya tidak dipakai lagi. Dengan demikian lambat laun kita akan mempunyai sekelompok mobil yang usianya semua berbeda dengan 1 tahun. Dengan demikian, pola penyusutan yang apapun yang kita pakai tidak akan ada pengaruhnya. Karena setiap usia diwakili, maka jumlah penyusutan setiap tahunnya akan selalu sama, sistem penyusutan apapun yang akan dipakai.

Penjelasan : Kalau di dalam contoh kita harga mobil Rp 60.000.000,- dan nilai sisanya nol, maka penyusutan per tahunnya adalah:

Di dalam kebanyakan perusahaan susunan apbp-nya tidak merupakan komplek yang ideal, tetapi kurang lebih didekati.

Akhirnya kami minta perhatian, bahwa kita selalu berbicara mengenai penyusutan kalkulatoris, yaitu penyusutan yang dipakai untuk perhitungan harga pokok standard.

3.5 JENIS-JENIS BIAYA LAINNYA

a. Biaya Tanah

Tanah biasa disebut sebagai alat produksi dengan usia sepanjang masa, karena dengan dipakainya tanah, nilainya tidak berkurang. Ini hanya benar kalau tanah dipakai sebagai tempat berusaha seperti tempat didirikannya pabrik atau kantor dagang, atau tempat pemasokan produk-produk pertanian. Dalam pemakaiannya seperti ini, biaya tanah hanya terdiri dari biaya bunga dari modal yang ditanam ke dalam tanah.

Terjadi komplikasi terhadap pemikiran tersebut kalau tanah dipakai sebagai lahan pertanian atau perkebunan, karena tanah digarap (untuk dibuat subur) dengan investasi yang besar dalam bentuk perbaikan tanah (land improvement) dan sistem pengairan. Pembangunan sarana dan perbaikan ini hanya mempunyai dampak yang sementara. Karena itu mereka harus diperlakukan sebagai alat produksi usia panjang yang harus disusut. Dengan demikian tanah membawa biaya bunga dan biaya prasarana dan perbaikan tanah yang harus disusut.

Ada juga perusahaan-perusahaan yang harus menyusutkan tanahnya sendiri. Ini terjadi di dalam perusahaan-perusahaan ekstraktif (pertambangan dan sejenisnya). Di sini tanah bukan lagi alat produksi yang hidup sepanjang masa, tetapi yang mengandung mineral yang bisa habis terpakai, sehingga sifatnya hanya alat produksi yang panjang usianya, tetapi toh terbatas.

Tingginya bunga sebagai biaya pemakaian tanah sangat banyak ditentukan oleh harga hak guna usaha tanah, atau harga beli tanah. Maka harus dimurnikan dari harga-harga lainnya seperti harga bangunan yang ada di atas tanah tersebut, harga perbaikan tanah dan harga prasarananya.

b. Biaya Jasa Pihak Lain

Banyak prestasi (jasa) yang dibutuhkan oleh perusahaan tidak dihasilkan oleh perusahaan sendiri, tetapi dibeli dari pihak lain yang biasanya mengkhususkan diri dalam bidang jasa-jasa yang bersangkutan. Misalnya transportasi dari bahan baku dan barang jadi, penyimpanan barang-barang, pembangkitan tenaga, berbagai jaminan oleh perusahaan-perusahaan asuransi dan sebagainya. Pekerjaan-pekerjaan tertentu untuk menghasilkan barang jadi juga dapat diborongkan pada pihak lain. Perusahaan jasa dari pihak lain biasanya dapat memberikan jasanya dengan harga yang lebih murah kalau perusahaan membutuhkan jasanya tidak teratur dan jumlahnya terlampau kecil. Perusahaan yang mengkhususkan diri pada jasa tertentu menjual jasanya kepada banyak pihak, sehingga produksinya lalu menjadi besar dan teratur yang berarti penekanan harga pokoknya.

Fee jasa yang dikenakan kepada perusahaan kita oleh pihak perusahaan jasa tidak merupakan masalah untuk perhitungan harga pokok standard. Jumlah yang dikenakan kepada kita sebagai fee itulah yang dianggap sebagai komponen harga pokok standard oleh perusahaan kita.

c. Biaya Pajak-Pajak

Pajak-pajak yang harus dibayar oleh perusahaan dapat dibagi ke dalam dua kategori:

  1. Pajak yang dikenakan pada barang dan jasa (seperti pajak tanah dan bangunan, bea masuk, cukai)
  2. Pajak yang dikenakan pada laba perusahaan.

Pajak pada kategori 1 dengan sendirinya adalah komponen harga pokok. Karena itu mereka juga disebut sebagai pajak yang sifatnya menaikkan harga pokok. Perusahaan harus membayar pajak ini tanpa peduli apakah perusahaan membuat laba atau menderita kerugian. Berlainan sekali adalah pajak dalam kelompok kedua, yaitu pajak atas penghasilan dan pajak perseroan atau pajak penghasilan badan (yang dikenakan pada perusahaan pribadi, firma, perseroan terbatas dan koperasi).

Pajak ini hanya dikenakan kalau perusahaan memperoleh laba, yaitu selisih antara hasil penjualan dengan harga pokoknya. Karena itu mereka tidak dapat dianggap sebagai komponen harga pokok. Dalam banyak hal penentuan laba fiskal berbeda dengan penentuan laba ekonomi perusahaan. Pemerintah (fiskus) mempunyai aturannya sendiri yang harus ditaati dalam menentukan laba fiskal. Dua hal yang bagi kita sangat penting:

  1. Bunga atas modal sendiri yang diperhitungkan tidak diterima sebagai biaya oleh fiskus, sehingga termasuk ke dalam laba fiskal;
  2. Hal yang sama berlaku untuk laba yang timbul karena adanya selisih antara harga perolehan yang sebenarnya dengan harganya kalau dibeli sekarang. Untuk ekonomi perusahaan, laba yang demikian adalah laba yang semu.

Jadi fiskus mengenakan pajak pada komponen-komponen yang menurut ekonomi perusahaan adalah biaya.

d. Biaya Bunga

Kecuali biaya-biaya yang telah dibicarakan, masih ada biaya bunga. Biaya ini disebabkan karena dibutuhkan modal yang ditanam ke dalam alat-alat produksi. Yang jelas adalah bahwa modal ditanam ke dalam alat produksi usia panjang (apbp) seperti yang telah kita bahas. Tetapi aktiva lancar perusahaan juga membutuhkan dana. Aktiva lancar ini adalah persediaan barang, piutang dan likuiditas. Biaya bunga dari aktiva lancar dapat dilihat dari perhitungan sebagai berikut :

Andaikan bahwa bahan baku rata-rata mengendap 3 bulan sebelum dipakai. Kalau tingkat bunga adalah 10 % dan harga beli bahan baku adalah Rp 100.000,-, biaya bunganya untuk menyimpan bahan baku di dalam gudang adalah :

3/12 x 10/100 x Rp 100.000,- = Rp 2.500,-

Pertanyaan yang pernah disinggung dalam pembahasan terdahulu adalah apakah untuk modal sendiri juga dihitung bunga. Seperti yang kami katakan di sana memang ya, karena dana yang ditanam di dalam perusahaan akan menghasilkan bunga seandainya ditanam di luar perusahaan, dan pendapatan bunga ini kita korbankan. Karena itu kita harus memperhitungkan bunga sebagai biaya untuk seluruh modal tanpa membedakan apakah itu modal pinjaman atau modal sendiri. Juga tidak kita adakan perbedaan antara modal pinjaman yang jangkanya pendek ataupun berjangka panjang.

Untuk menghitung harga pokok standard yang normatif kita harus bertitik tolak dari kebutuhan akan modal dalam hal produksi dilakukan secara rasional, sedangkan cara perolehan dananya juga dipilih yang paling rasional dan paling efisien. Modal yang tertanam di dalam perusahaan karena cara yang tidak tepat tidak dapat dimasukkan ke dalam perhitungan biaya bunganya. Cara-cara ini adalah banyaknya bahan baku yang tercecer, persediaan barang yang terlampau banyak, adanya kelebihan kapasitas mesin-mesin yang tidak rasional, likuiditas yang terlampau banyak dsb.

Tingginya tingkat bunga diambil yang berlaku umum di pasar modal. Tinggi tingkat bunga di pasar obligasi misalnya dapat dihitung sebagai berikut : Kalau harga obligasi yang tidak akan dibayar kembali oleh utang negara adalah 40% dan bunga nominalnya adalah 4% setahun, maka bunga efektif yang berlaku untuk obligasi yang bersangkutan adalah 100/40 x 4% = 10%.

Kalau perusahaan membiayai diri dengan obligasi, bunga efektifnya dapat dihitung dengan cara yang sama. (kalau perlu dihitung atas dasar obligasi yang mirip). Hal yang sama berlaku bagi bentuk-bentuk pendanaan lainnya oleh perusahaan.

Tingkat suku bunga rata-rata tertimbang juga dapat dipakai untuk menghitung harga pokok standard yang normatif. Harus kita perhitungkan bahwa tingkat bunga yang berlaku untuk obligasi yang dikeluarkan oleh dunia usaha biasanya lebih tinggi daripada bunga obligasi yang diterbitkan oleh negara. Para investor yang membeli obligasi kecuali minta imbalan bunga murni juga memperhitungkan unsur resiko yang dianggapnya lebih besar pada dunia usaha daripada kalau memberi utang kepada negara.

http://www.koraninternet.com/?pilih=lihat&id=8462

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: